Minggu, 11 Maret 2012

Istri Paling Sempurna

Aku tak mencintaimu seperti engkau adalah mawar, atau topas, atau panah anyelir yang membakar. Aku mencintaimu selayaknya beberapa hal terlarang dicintai, diam-diam di sela-sela bayangan dan sukma.*

Aku adalah suami yang lemah lembut dan sangat mencintai istriku. Dialah satu-satunya perempuan di dunia ini yang bertahta dalam hatiku. Aku tidak pernah sedikit pun memukulnya, apalagi mencaci maki. Aku tidak pemabuk, bukan penjudi, tidak pernah menyentuh narkoba, dan tak pernah terpikirntuk berselingkuh. Sempurna bukan? Aku ingat lagu When A Man Loves A Woman. Dengarkan, itu bukan lagu cengeng, ya.

Kami menikah pada musim yang kaya dengan matahari tropis dan angin lembut bertiup manja dari pori-pori awan. Hujan daun berjatuhan dari ranting ketika kami saling mengucapkan janji seia sekata, sehidup semati. Dalam untung dan malang. Dalam suka dan duka. Dalam sakit dan sehat. Sampai maut memisahkan. Kuucapkan sumpahku sepenuh hati. Niatku memang tulus dan suci. Hari itu aku diliputi udara kebahagiaan yang membuatku mabuk kepayang, bagai menenggak berpuluh-puluh sloki scotch. Belum pernah kulihat istriku tampak demikian cantik dan bercahaya. Benar, dia sungguh-sungguh bersinar, seakan dia menjelma menjadi peri kunang-kunang. Aku terharu, terapung-apung oleh ombak lembut di samudra cintaku kepadanya.

Jangan katakan aku adalah lelaki yang cengeng atau melankolis, yang mudah tersentuh oleh hal-hal seperti itu. Apa pun suasananya, aku akan selalu tersentuh jika melihat kehadiran istriku. Dia mampu mewarnai hidupku dan menciptakan pelangi setelah hujan turun. Dia adalah kumparan intan permata yang selalu kusemat dalam lorong jiwa tergelapku.

Malamnya, kami bercinta di atas ranjang hotel kami yang romantis bertabur puluhan kelopak mawar. Kucium belakang telinganya yang wanginya seharum rumpun cemara pada pagi hari. Kuusap bibirnya yang lembut dan kenyal bagai jeli manis berwarna merah delima. Kurasakan degup jantungnya yang stabil dan menenangkan pada tanganku. Cintaku meleleh, membungkusnya rapat-rapat, dari ujung rambut terjauhnya sampai telapak kaki mungilnya. Oh, dia begitu rapuh dan indah. Tak pernah aku merasakan kekuatan dalam tubuh ini yang ingin selalu melindunginya dari segala marabahaya. Aku menatap istriku tanpa henti, seakan waktu tak pernah berputar dan musim tak pernah mengudar. Aku mati-matian menahan diri agar tidak jatuh tertidur, agar detik itu mengkristal, menjadi keabadian, tapi toh mata memang dapat mengkhianati hati. Ketika aku menutup kelopak mataku, aku masih merasakan bayangnya yang hidup dan bergerak dalam mimpiku.  

Dua bulan kemudian, istriku menyampaikan berita paling manis yang pernah kucecap. Dia hamil. Aku akan menjadi ayah dan dia akan menjadi ibu. Bagai berjalan di atas tanah basah setelah hujan embun, aku merasakan hidupku sungguh lengkap. Kami berlayar di dunia yang penuh manis gulali. Tidak pernah aku ingin memutar perahu ini kembali pada dermaga yang dulu.

Ketika kandungannya berusia tiga bulan, istriku keguguran. Aku menolak mengatakan bahwa itu adalah peristiwa tersedih yang pernah kualami. Tidak, peristiwa itu membuat cintaku semakin dalam padanya. Ketika rahimnya dibersihkan, aku ngotot untuk mendampinginya, menggenggam jemarinya yang pucat. Dokter sibuk di ujung tungkai kakinya, menyedot sisa-sisa anak kami dengan alat medis yang tampak seperti vacuum cleaner bagiku. Istriku dibius tidur. Aku menatap matanya yang terkadang berkedut. Aku tenggelam dalam mimpinya, memagut tubuhnya rapat dalam pelukanku.

Enam bulan kemudian dia hamil lagi. Kebahagiaan kami mendapatkan bayi hanya seumur jagung. Dua bulan setelahnya, dia kembali keguguran. Kali ini tangisnya bagai kawah gunung berapi yang sedang menggelegak. Dia ingin mengecek kondisi medisnya. Istriku geram, istriku penasaran, istriku berkabung. Apa gerangan yang membuatnya selalu keguguran? Aku mendampingi dan mendukungnya dalam setiap keputusannya. Berbulan-bulan dia menjelajahi hutan medis. Tes darah. Tes kesehatan. Tes fisik. Tidak apa-apa, kata semua dokter. Keguguran adalah hal normal yang terjadi pada calon ibu. Aku menggenggam tangannya erat-erat ketika kepalanya jatuh tertunduk layu di ruang konsultasi dokter.

Setahun kemudian, dia hamil lagi. Kali ini dia bertekad untuk menjaga kandungannya. Istriku beristirahat total di rumah. Dia menyiapkan sarang kecil di kamar kami. Tiap hari kulihat dia bergelung di atas ranjang, tidak melakukan apa-apa, hanya berbaring dan bermeditasi. Tidakkah kamu bosan, tanyaku. Tidak, katanya. Ini semua kulakukan untuk anak kita tercinta, begitu jawabnya penuh kasih sayang. Kuperhatikan dirinya dalam gelegak diam yang penuh kebahagian ketika melihat perutnya semakin membuncit. Istriku terlihat semakin seksi, sensual, dan menggairahkan. Sembilan bulan melaju demikian cepat. Dia melindungi janinnya baik-baik. Aku berterimakasih kepadanya atas pengorbanannya yang begitu besar.

Pagi itu ketika embun pertama menetes, dia melahirkan bayi-bayi kami. Ya, bayi-bayi. Bukan hanya satu bayi. Kami mendapat anugrah dua kali lipat. Bayi kembar yang manis. Sepasang lelaki dan perempuan. Tak pernah kurasakan kebahagiaan ini; begitu agung, begitu mewah. Kami memberi nama mereka Sabiya yang berarti pagi hari dalam bahasa Arab serta Liko yang berarti dilindungi oleh Buddha dalam bahasa Cina. Dua nama yang benar-benar berbeda; berasal dari dua kebudayaan, dua bahasa, dan dua agama besar. Aku mencium dua permata kami sebelum kembali ke ruang perawatan ibu, mengunjungi kekasih hatiku.

Aku mencintaimu seperti tumbuhan yang urung mekar, dan membawa jiwa bunga-bunga itu di dalam dirinya, dan karena cintamu, aroma bumi yang pekat tumbuh diam-diam di dalam tubuhku.*

&    &    &

Aku tidak pernah berhenti mencintainya. Hanya istriku yang menjadi tiang utama perhatianku dalam hidup. Hanya dia seorang, tak ada lagi. Setelah melahirkan, dia berubah. Perhatiannya yang dulu bertubi-tubi untukku menjadi berkurang. Sering kali aku diabaikan. Sering kali aku didiamkan. Aku selalu bersabar menghadapinya. Kata orang, demikianlah perempuan yang baru melahirkan. Hormonnya berganti-ganti.

Dia senang mendekam dalam rumah sekarang. Jarang ingin keluar jika kuajak berjalan-jalan. Mengenakan daster setiap hari, tak pernah berdandan lagi. Tubuhnya bau susu. Aku heran, mengapa dia perlu membuat susu sebanyak itu. Katanya anak-anak kami menyusu dengan rakus. ASI-nya tidak mencukupi. Aku terdiam mendengar penuturannya.
  
Pada hari anniversary kami yang kelima, kuajak dia pergi mengunjungi negeri paling romantis yang pernah ada di dunia. Aku telah memesan perjalanan first class, hotel five stars, dan restoran mewah yang akan memanjakan kami berdua. Selama sepuluh hari itu aku ingin memusatkan perhatian hanya untuk dirinya saja. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku malas pergi, katanya. Kasihan bayi-bayi kami tak diajak serta. Aku gigih memaksanya, sampai akhirnya dia bersedia mengepak koper-koper kami dan menghabiskan sepuluh hari selanjutnya bersamaku saja.

Aku bahagia, melihat dia kembali menjadi istriku yang dulu. Dia tampak bergairah. Cintanya membara untukku. Kami bercinta setiap hari selama sepuluh hari. Kuisap buliran madu yang menetes turun dari rambut hitamnya. Kuhirup lelehan karamel yang mengilapkan tubuhnya. Aku mencintainya sepenuh hati, demi Tuhan. Kami adalah pasangan abadi yang dirancang oleh surga.

Ketika pulang, baru mencapai pegangan pintu, istriku kembali berubah lagi. Kurasakan cintanya padaku segera menyusut. Perhatiannya langsung terampas oleh hal-hal lain. Bayi-bayi kita rindu, demikian penjelasannya. Aku tidak percaya bayi-bayi dapat merindu. Kudiamkan dirinya selama berjam-jam sampai malam menjemput. Istriku tak menyadari kesedihanku. Dia sibuk di kamar, bersama bayi-bayi. Kudengar pekikan riangnya dari kamar kami yang kini semakin sepi. Istriku memutuskan tidur di kamar anak-anak agar selalu dekat dengan mereka.

Tahun-tahun pun terpeleset, meluncur cepat bagai kereta jet costar di taman bermain. Kata istriku, si kembar kini telah berusia lima tahun. Dia hendak mengadakan pesta besar-besaran. Untuk pertama kalinya, aku tidak setuju dengan pendapat istriku. Untuk apa pesta, kataku menjelaskan lemah lembut. Tapi dia ngotot, sehingga kami pun bertengkar hebat. Kukatakan padanya untuk segera melupakan ide itu. Dia tersinggung. Katanya aku lelaki egois yang mementingkan diri sendiri. Pedih hatiku mendengarnya. Tidak pernah secuil pun aku memikirkan diri sendiri di atas kepentingannya. Pesta terlupakan tapi perkelahian kami bagai bibit yang siap pecah untuk menumbuhkan tunasnya.

Aku lelah dengan rengekannya tentang kenakalan anak-anak. Aku tidak ingin mengomentari tentang kesukaannya mendadani Sabiya dan kebanggaannya terhadap ketampanan Liko. Aku capek dengan ceritanya tentang kemajuan anak-anak di sekolah. Aku tidak ingin sibuk mencari segala hal yang terbaik buat anak-anak.

Jangan salah. Aku bukannya tidak ingin membantu kerepotannya dalam rumah tangga, aku hanya lelah. Aku tidak ingin melakukan apa-apa lagi. Aku hanya menginginkan cintanya yang dulu begitu meledak-ledak padaku. Padahal cintaku padanya masih dahsyat. Masih legit. Sering kali aku melamun memerhatikan dirinya di meja makan. Baru saat mulutku hendak bercerita tentang segala hal yang ingin kuceritakan padanya—kegiatan yang dulu sering kami lakukan, dia mendadak harus mengomeli anak-anak. Katanya anak-anak tidak menghabiskan sop mereka. Terpaksa aku diam lagi. Dengan layu dan sedih kuperhatikan wajahnya yang menua, tampak garis-garis kerutan di sana sini. Aneh. Bukannya dia bertambah buruk di mataku, istriku semakin cantik jelita.

 Aku mencintaimu tanpa mengerti bagaimana, sejak kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa kebimbangan, tanpa kesombongan. Aku mencintai seperti ini, karena tak ada cara lain untuk mencintai.*

&    &   &

Dua puluh tiga tahun telah berlalu. Dua puluh tiga tahun aku telah menikah dengannya. Dua puluh tiga tahun aku tak pernah surut mencintai istriku. Dia pilar hidupku. Dia cahaya mercusuarku. Dia bertahta di jiwaku selamanya.

Tapi kali ini terlalu kelewatan. Istriku semakin menuntut macam-macam dariku. Si kembar akan berusia tujuh belas tahun, katanya. Mereka pengin pesta sweet seventeen di hotel termewah di kota ini. Acaranya harus sempurna. Dia tidak peduli dengan harga katering atau even organizer yang akan disewa olehnya. Sebenarnya aku peduli, tapi aku diam. Karena aku mencintainya, kubiarkan dia melakukan hal-hal yang disukainya. Demi anak-anak, katanya memohon. Sekali dalam hidup kita, biarlah kita menyenangkan anak-anak.

Pesta itu sangat mewah. Ballroom terbesar disewa olehnya. Makanan berlimpah untuk ratusan tamu. Ruangan itu dihias, didekor dengan sempurna. Aku tidak ingin datang ke pesta. Aku sengaja berlambat-lambat di kantor, menyibukkan diri dengan meeting. Sebenarnya aku ingin ke luar kota saja, mengadakan perjalanan bisnis, biar tidak usah menghadiri pesta yang menurutku bodoh itu. Tapi istriku memohon agar aku tidak pergi ke luar kota. Entah untuk keberapa ratus kalinya, kukabulkan permohonannya. Gara-gara itu, dia menerorku dengan telepon sepanjang hari, mengingatkanku agar pulang cepat dan pergi ke pesta dengannya.

Akhirnya setelah berhasil mengulur waktu selama dua jam lebih, aku pulang juga. Di rumah, mata istriku tampak sembap karena terlalu lelah menungguku. Baiklah, aku menyerah. Aku sungguh mencintainya karena itu kupaksakan diriku mengenakan jas hitam yang telah disiapkan olehnya. Istriku tampak berseri-seri dalam balutan gaun pestanya. Aku jadi ingat malam pernikahan kami. Betapa cantiknya dia. Betapa bersinar-sinarnya dia. Jika harus kulakukan hal ini untuk membahagiakannya, aku tak perlu berpikir dua kali.

Di ballroom, pesta nyaris mulai. Kugandeng tangan istriku yang terasa dingin dan pucat. Para pelayan hotel berdiri di setiap ujung, mengamati gerak-gerik kami. Aku tersenyum, mengangguk kepada mereka. Istriku berjalan ke tengah ruangan. Aku berdiri di sana bersamanya. Aku ingat lagi ketika kami menikah, berjalan berdua, setengah mati berbahagia. Jika hidupku ditakdirkan untuk mencintainya, biarlah kuarungi jalan ini.

Di tengah ruangan, kami berdiri berdua. Hanya berdua. Sepasang kakek-nenek bergandengan penuh cinta. Tak ada siapa-siapa di ballroom. Kutatap matanya yang mulai merabun. Dia berbisik lirih agar aku memaafkan dirinya yang bodoh. Aku menatapnya masih dengan penuh cinta dan haru. Aku tidak pernah punya simpanan maaf untuknya, karena di mataku dia tak pernah salah.

Anak kami, Sabiya dan Liko, hari ini memang berusia tujuh belas tahun.Tujuh belas tahun yang lalu, mereka meninggal setelah dilahirkan istriku. Sepasang bayi kembar siam dempet di kepala itu hanya bertahan empat jam di pelukan lembut istriku. Kami menguburkan mereka. Ini tidak benar. Orangtua tidak seharusnya menguburkan anak, melainkan kebalikannya. Istriku tidak hanya menguburkan anak-anak kami, dia juga harus rela menguburkan mimpinya memiliki anak kandung. Rahimnya mati bersama bayi-bayi tercinta kami. Terus terang, aku tidak pernah peduli dengan kenyataan itu. Bagiku, dia tetaplah istriku yang paling sempurna.

Kugandeng kekasihku dan kuberikan sinyal kepada para pelayan agar segera memulai pesta. Musik pun mengalun dari orchestra yang disewa khusus olehnya. Makanan disajikan. Aku memeluk istriku di tengah-tengah ruangan. Perlahan-lahan, lampu kristal meremang dan hujan kelopak mawar berjatuhan dari atas. Kuayun langkahnya, kudekap tubuh hangatnya, dan kucium pipinya. Kami berdansa sampai malam menggigit bulan. Hanya kami berdua, saling menyentuh penuh kasih sayang. Hanya kami berdua, karena aku sangat mencintainya. Sesederhana itu. Sungguh.

Di sini, di mana "aku" dan "kau" tiada, begitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku. Begitu erat, hingga ketika kau tertidur, kelopak matakulah yang tertutup.*


(*) Pablo Neruda, Soneta XVII 

Dipublikasikan di Femina nomor 39, 2007

Sabtu, 03 Maret 2012

Organ - Organ pernapasan Manusia

Organ - Organ pernapasan Manusia

Sistem pernapasan pada manusia meliputi semua struktur yang menghubungkan udara ke dan dari paru-paru. Organ pernapasan utama berupa paru-paru. kita dapat memahami organ-organ pernapasan pada manusia dengan mempelajari materi berikut.

a. Hidung
Hidung berfungsi sebagai alat pernapasan dan indra pembau. Hidung terdiri atas lubang hidung, rongga hidung, dan ujung rongga hidung. Rongga hidung memiliki rambut, banyak kapiler darah, dan selalu lembap dengan adanya lendir yang dihasilkan oleh selaput mukosa.

Di dalam rongga hidung, udara disaring oleh rambut rambut kecil (silia) dan selaput lendir yang berguna untuk menyaring debu, melekatkan kotoran pada rambut hidung, mengatur suhu udara pernapasan, maupun menyelidiki adanya bau. Pada pangkal rongga mulut yang berhubungan dengan rongga hidung terdapat suatu katup yang disebut anak tekak. Saat menelan makanan anak tekak ini akan terangkat ke atas menutup rongga hidung sehingga makanan tidak dapat masuk ke dalam rongga hidung.




b. Faring
Faring merupakan persimpangan jalan masuk udara dan makanan. Faring merupakan persimpangan antara rongga mulut ke kerongkongan dengan hidung ke tenggorokan.

c. Laring
Laring disebut juga pangkal tenggorok atau kotak suara. Laring terdiri atas tulang rawan yang membentuk jakun. Jakun tersusun atas tulang lidah, katup tulang rawan, perisai tulang rawan, piala tulang rawan, dan gelang tulang rawan.

Pangkal tenggorok dapat ditutup oleh katup pangkal tenggorokan (epiglotis). Pada waktu menelan makanan, epiglotis melipat ke bawah menutupi laring sehingga makanan tidak dapat masuk dalam laring. Sementara itu, ketika bernapas epiglotis akan membuka. Pada pangkal tenggorok terdapat selaput suara atau lebih dikenal dengan pita suara.
d. Trakea
Perhatikan Gambar 7.1. Trakea (batang tenggorokan) merupakan pipa yang panjangnya kira-kira 9 cm. Trakea tersusun atas enam belas sampai dua puluh cincin-cincin tulang rawan yang berbentuk C. Cincin-cincin tulang rawan ini di bagian belakangnya tidak tersambung yaitu di tempat trakea menempel pada esofagus. Hal ini berguna untuk mempertahankan agar trakea tetap terbuka.

Cincin-cincin tulang rawan diikat bersama oleh jaringan fibrosa, selain itu juga terdapat beberapa jaringan otot. Trakea dilapisi oleh selaput lendir yang dihasilkan oleh epitelium bersilia. Silia-silia ini bergerak ke atas ke arah laring sehingga dengan gerakan ini debu dan butir-butir halus lainnya yang ikut masuk saat menghirup napas dapat dikeluarkan. Di paru-paru trakea ini bercabang dua membentuk bronkus.
e. Bronkus
Bronkus merupakan cabang batang tenggorokan yang jumlahnya sepasang, yang satu menuju ke paru-paru kanan dan yang satu lagi menuju ke paru-paru kiri. Tempat percabangan ini disebut bifurkase. Bronkus mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus yang ke kiri lebih panjang dan sempit serta kedudukannya lebih mendatar daripada yang ke kanan. Hal ini merupakan salah satu sebab mengapa paru-paru kanan lebih mudah terserang penyakit. Bronkus sebelah kanan bercabang menjadi tiga bronkiolus, sedangkan bronkus sebelah kiri bercabang menjadi dua bronkiolus.
f. Bronkiolus
Bronkiolus merupakan cabang dari bronkus, dindingnya lebih tipis dan salurannya lebih kecil. Semakin kecil salurannya, semakin berkurang tulang rawannya dan akhirnya tinggal dinding fibrosa dengan lapisan silia. Setiap bronkiolus terminal (terakhir) bermuara ke dalam seberkas kantung-kantung kecil mirip anggur yang disebut alveolus.
g. Alveolus
Alveolus merupakan saluran akhir dari alat pernapasan yang berupa gelembung-gelembung udara. Dindingnya tipis, lembap, dan berlekatan erat dengan kapiler-kapiler darah. Alveolus terdiri atas satu lapis sel epitelium pipih dan di sinilah darah hampir langsung bersentuhan dengan udara. Adanya alveolus memungkinkan terjadinya perluasan daerah permukaan yang berperan penting dalam pertukaran gas O2 dari udara bebas ke sel-sel darah dan CO2 dari sel-sel darah ke udara. Perhatikan Gambar 7.2 berikut.

h. Paru-Paru
Paru-paru ada dua dan merupakan organ pernapasan utama. Paru-paru terletak dalam rongga dada. Letaknya di sebelah kanan dan kiri serta di tengahnya dipisahkan oleh jantung. Jaringan paru-paru mempunyai sifat elastik, berpori, dan seperti spon. Apabila diletakkan di dalam air, paru-paru akan mengapung karena mengandung udara di dalamnya.

Paru-paru dibagi menjadi beberapa belahan atau lobus. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus. Setiap lobus tersusun atas lobula. Paru-paru dilapisi oleh selaput atau membran serosa rangkap dua disebut pleura. Di antara kedua lapisan pleura itu terdapat eksudat untuk meminyaki permukaannya sehingga mencegah terjadinya gesekan antara paru-paru dan dinding dada yang bergerak saat bernapas. Dalam keadaan sehat kedua lapisan itu saling erat bersentuhan. Namun dalam keadaan tidak normal, udara atau cairan memisahkan kedua pleura itu dan ruang di antaranya menjadi jelas.

Tekanan pada rongga pleura atau intratoraks lebih kecil daripada tekanan udara luar (± 3–4 mmHg). Di bagian dalam paru-paru terdapat gelembung halus yang merupakan perluasan permukaan paru-paru yang disebut alveolus dan jumlahnya lebih kurang 300 juta buah. Dengan adanya alveolus, luas permukaan paru-paru diperkirakan mencapai 160 m2 atau 100 kali lebih luas daripada luas permukaan tubuh.


Contoh Makalah Percobaan KOROSI pada Besi


KOROSI BESI

A.    Pendahuluan 

Korosi merupakan salah satu contoh reaksi redoks dalam kehidupan sehari-hari yang merugikan manusia.  Korosi adalah teroksidasinya suatu logam. Adapun contoh korosi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu perkaratan besi. Rumus kimia besi berkarat: Fe2O3 . xH2O (suatu zat yang berwarna cokelat merah). Peristiwa korosi merupakan peristiwa elektrokimia, yaitu logam Fe yang teroksidasi bertindak sebagai anoda dan oksigen yang terlarut dalam air bertindak sebagai katoda.
            Adapun reaksi perkaratan besi adalah sebagai berikut:

Katoda:            O2(g) + 2H2O(l) + 4e 4OH(aq)                             Eo =+0,40 volt atau
                        O2(g) + 4H+(aq) +4e 2H2O(l)                      Eo =+1,23 volt

Pada percobaan ini akan dipelajari faktor-faktor yang berpengaruh pada proses korosi.

B.    Alat dan Bahan 

No.
Alat dan Bahan
Jumlah
1.
Botol bekas minuman
4
2.
Kapas kering
Secukupnya
3.
Amplas
Secukupnya
4.
Paku besi
4 batang
5.
Sumbat karet (prop)
2
6.
Air ledeng
Secukupnya
7.
Kristal NaCl
2 gram
8.
Kerosin (minyak)
10 ml
C.     Cara Kerja

1.      Ambillah 4 botol bekas minuman, kemudian:
a.      Tambahkan 5 ml air ledeng ke dalam tabung 1,
b.      Tambahkan 2 gram kristal NaCl2 dan kapas kering kedalam tabung 2
c.       Tambahkan air yang sudah dididihkan kedalam tabung 3 hingga hampir penuh,
d.      Tambahkan kira-kira 10 ml kerosin kedalam tabung 4
2.      Amplaslah 4 batang paku besi hingga bersih, kemudian masukkan masing-masing satu kedalam tabung reaksi pada langkah 1 diatas.
3.      Tutup tabung 2 dan 3 dengan prop (sumbat) karet sampai rapat
4.      Simpanlah tabung-tabung tersebut selama 2 hari, kemudian amati apa yang terjadi. Catat pengamatan anda.

D.    Data Pengamatan 

1.      Pada tabung berapakah yang terbentuk karat?
2.      Pada tabung berapakah yang tidak terbentuk karat?

E.     Pertanyaan dan Bahan Diskusi 

1.      Dalam percobaan tersebut paku menjadi berkarat. Apakah didalam tabung terdapat oksigen atau air?
2.      Dalam percobaan paku tidak berkarat. Apakah didalam tabung tidak terdapat oksigen atau air?
3.      Buatlah kesimpulan dari percobaan ini!
Jawaban:
D. 1. Tabung 1 dan tabung 3
     2. Tabung 2 dan tabung 4
E. 1. Ya, terdapat.
    2. Ya, tidak terdapat.
    3. Kesimpulan:
-Korosi disebabkan oleh udara yang lembab.
-Korosi disebabkan karena adanya karbon (C) dan hidrogen (H)

F.     Laporan Hasil Pengamatan

Setelah kami melakukan pengamatan, maka didapatkan hasil:
Ø  Paku pada tabung 1 yang paling berkarat, hal ini membuktikan bahwa unsur yang paling mempengaruhi korosi yaitu oksigen (O), karbon (C) dan hidrogen (H).
Ø  Pada tabung 2 paku tidak berkarat karena botol disumbat juga karena didalamnya terdapat NaCl .
Ø  Pada tabung 3, meskipun tabung tertutup, tapi udara yang terperangkap didalam tabung sebelum ditutup bereaksi dengan hidrogen sehingga terjadi korosi pada paku.
Ø  Padatabung 4, dalam keadaan botol terbuka tidak terjadi korosi, hal ini dikarenakan kerosin (minyak) dapat menghambat korosi (perkaratan).

Dongeng : Mundinglaya di Kusumah


Aya hiji nagara, nagara subur ma’mur kartaraharja, gemah ripah lohjinawi, katelahna Pajajaran. Ari Raja Pajajaran harita anu nelah Prabu Siliwangi, raja adil paramarta tur dipikanyaah ku rahayatna. Permaisurina nya eta Padmawati.
Permaisuri teh keur kakandungan. Anjeunna nyiram palay buah honje. Terus bae nitah lengser pikeun neangan honje. Teu ku hanteu, harita teh di Pajajaran kacida hesena manggihan honje. Atuh kapaksa Lengser mapay-mapay nagara neangan honje.
Sanggeus lila neneangan, ahirna lengser teh manggih hiji tangkal honje. Tapi pikeun meunangkeunana kudu parebut heula jeung Lengser Nagara Muara Beres. Manehna oge sarua deuih keur neneangan honje pikeun permaisuri Muara Beres nu keur nyiram. Dua Lengser parebut honje, nepi ka galunganana. Gelutna euweuh nu eleh euweuh nu meunang, sabab sarua bedas jeung saktina. Duanana ngalungsar nahnay bakating ku cape. Antukan buah honje teh dibagi dua. Sabeulah keur permaisuri Pajajaran, nu sabeulah deui keur permaisuri Muara Beres.
Sanggeus datang mangsana, permaisuri Pajajaran ngalahirkeun budak lalaki, dingaranan Mundinglaya di Kusumah. Ari permaisuri Muara Beres ngalahirkeun budak awewe, dingaranan Dewi Asri. Geus ditangtukeun ku Dewata, eta dua budak teh bakal ngajodo.
Kocapkeun Mungdinglaya teh geus gede, geus jadi pamuda anu gagah tur sakti. Hiji peuting Padmawati nempo Lalayang Salaka Domas di Jabaning Langit. Mundinglaya dititah nyokot eta Lalayang Salaka Domas. Tapi samemehna kudu ka Muara Beres heula neang pipamajikaneunana, nyaeta Dewi Asri.
Mundinglaya indit ti Pajajaran dibarengan ku Gelap Nyawang jeung Patih Kidang Pananjung. Barang nepi ka Muara Beres, harita keur aya dina kaayaan teu aman. Muara Beres dikepung ku raja-raja salawe nagara, pedah lamaranana ditolak ku Dewi Asri. Raja salawe nagara hiji-hiji diperangan ku Mundinglaya. Antukna kabeh taluk.
Ti Muara Beres, Mundinglaya indit neangan Lalayang Salaka Domas. Ari eta Lalayang Salaka Domas teh anu Guriang Tujuh. Barang datang ka Jabaning Langit, atuh der bae perang. Mundinglaya dihurup ku Yaksa Maruta, Jonggrang Kalapitung, jeung Guriang Tujuh. Ahirna Mundinglaya unggul sarta bisa mawa Lalayang Salaka Domas.
Ti dinya mah terus bae atuh Mundinglaya teh mulang ka Jabaning Langit. Lalayang Salaka Domas dipasrahkeun ka bapana. Mundinglaya kawin jeung Dewi Asri. Teu lila ti harita Mundinglaya di Kusumah jeneng raja di Pajajaran.